Menggugat kematian nalar kritis dalam tragedi apatisme mahasiswa


 

Apatis saja

    Dalam beberapa hari ini kita melihat begitu banyak dari kalangan mahasiswa yang berada dalam lingkaran organisasi, dalam gerakan mahasiswa kita di kenalkan bagaimana kita melihat realitas yang terjadi yang kemudian membawa kita merefleksikan dalam pikiran kita dan mengejawantahkan dalam amal saleh. Hari ini kita melihat begitu banyak yang antusias terhadap realitas, tentu ini bukan hanya sekedar peduli namun menjadikan mereka paham akan hal yang di butuhkan pada hari ini.

    Banyak juga yang dari kalangan mahasiswa yang tidak peduli terhadap realitas yang terjadi, dari fenomena tersebut kita memiliki pertanyaan yang mendasar, mengapa mereka cenderung memiliki kecondongan pada sikap yang apatis?

    Dalam perguruan tinggi mahasiswa tidak hanya di tangguhkan dalam pencarian ilmu pengetahuan atau mentransfer ilmu pengetahuan itu saja, ada makna yang lebih substansial, yakni adalah yang tertera dalam Tri Dharma perguruan tinggi itu sendiri, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat.

    ebetulnya kita menemukan bagaimana teori yang di ajarkan dalam kelas dapat kita terima, namun taraf yang kita dapati tidak hanya kita terima begitu saja, perlu adanya realisasi dalam ilmu yang di dapat, tentu ini menjadikan bentuk dari amal saleh, tidak hanya memahami kondisi yang terjadi, tetapi ikut serta dalam perubahan yang berdampak.

    Pendidikan dalam konsep teori dari Paulo Freire, beliau membagi 3 kesadaran yakni, kesadaran magis, kesadaran naif, kesadaran kritis. Dalam pemaparan kesadaran magis individu percaya bahwa kemiskinan, ketertindasan adalah nasib atau kehendak tuhan, lalu dalam kesadaran naif individu percaya bahwa ada masalah yang terjadi, namun mereka melihat penyebabnya hanya sebatas personal, bukan pada sistem atau kebijakannya, lalu kesadaran kritis merupakan tahap tertinggi dimana individu mampu melakukan analisis yang mendalam terhadap realitas yang terjadi.

    Dalam teori konsep diatas kita bisa melakukan pengklasifikasian dalam struktur mahasiswa yang apatis terkadang masih berada di ambang tahap kesadaran naif. Freire percaya pendidikan bukan hanya sekedar penerima atau pemasok ilmu, namun memiliki sisi yang lebih substansial.

    Pada akhirnya kita sadar bahwa pendidikan seharusnya membawa pada indikator yang menguatkan karakter kesadaran kritis, dalam kelas pun kita menemukan bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi. Dalam contoh, mahasiswa cenderung tidak berani bertanya pada persentator, entah mereka betul-betul paham atau mereka menganggap itu sekedar mencari perhatian, namun terlepas dari pada itu kondisi yang kini di butuhkan adalah membawa mahasiswa pada kesadaran yang kritis, artinya ketika mahasiswa berdialektika dalam kelas sebetulnya mereka sedang berproses dalam jalinan kesadaran kritis yang nyata.

    Melalui pendekatan yang krusial, dialog adalah kunci dalam membangun kesadaran kritis, melalui dialog itu sendiri membuka kesadaran yang muncul dalam kebutuhan hari ini, belajar adalah tuntutan kebutuhan hari ini. Pada akhirnya, belajar bukanlah sebuah garis finis yang harus dicapai, melainkan bahan bakar yang menjaga nyala api kehidupan.

    Menjadikan belajar sebagai sebuah kebutuhan berarti kita sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk terus tumbuh melampaui batas kemampuan hari ini. Sebab di dunia yang terus bergerak, berhenti belajar bukanlah sebuah pilihan, melainkan cara perlahan untuk tertinggal oleh zaman.


Penulis: Edo Alfajri

Posting Komentar

0 Komentar