Cinta yang Menetes di antara Asap dan Kopi

Wong Asor


Obrolan tentang cinta bersama kawan-kawan di warung kopi Keneae tadi malam, sekitar 4 jam yang lalu ternyata menyisakan kesan yang nggak bisa lewat begitu saja. Awalnya saya memang ingin ngopi untuk melepas penat. Tapi seperti yang kita laki-laki bayangkan, obrolan warung kopi itu nggak pernah bisa ditebak arahnya. Dari yang niatnya hanya pesan kopi hitam, tiba-tiba nyasar ke pembahasan cinta yang serius, namun Santai.

Berangkat dari kawan saya Suryo Ngalam yang tiba-tiba celetuk bertanya kepada saya “Jar, opo kui cinta?” Awalnya memang saya malas menjawab, karena saya memang ngopi hanya melepas penat. Tapi, Kawan saya Salman yang terkenal gaya-nya yang santai dan tampan juga ingin otak-atik tentang “Apa itu cinta?”

Saya sebenarnya bisa saja menjawab pertanyaan itu dengan mengutip definisi cinta dari para tokoh. Misalnya, Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa “cinta adalah condongnya hati terhadap sesuatu.” Atau Erich Fromm yang menulis bahwa cinta sejati adalah “sikap aktif yang didasari empat prinsip utama: kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.”

Tapi rupanya teman-teman saya tidak puas dengan jawaban teoretis seperti itu. Mereka ingin mendengar definisi cinta menurut saya pribadi. Maka saya bilang, “Cinta itu ketika kamu sudah tahu sisi negatif bahkan sisi terburuknya, tapi kamu tetap ingin bersamanya. Itu cinta.” Jawaban sok puitis dari saya.

Setelah menjawab, saya balik bertanya kepada Salman. Dengan wajah tampan juga serius, ia berkata, “Cinta itu memberi, bukan meminta.” Seketika saya teringat buku The Art of Loving-nya Erich Fromm yang membahas hal serupa.

Lalu saya penasaran dengan jawaban Suryo. Dengan santai ia berkata, “Cinta itu ketika ada perasaan ‘tekkk’-nya.” Saya cuma bisa mikir: apa itu ‘tekkk’? Hahaha.

Pertanyaan yang sama saya lempar ke Ya’lu, yang saat itu sedang duduk santai sambil membaca buku hukum pidana, buku yang entah kenapa selalu ia bawa ke mana-mana. Ia menjawab dengan gaya khasnya, “Menurutku, cinta kui levelnya lebih tinggi daripada sayang.” Jawabannya membuat kami yang mendengarnya ingin ketawa tapi sekaligus mikir.

Demikian pula kawan saya, Oki, yang dengan nada yakin berkata, “Cinta kui buta.” Setelah itu giliran Jarot dengan gaya khasnya yang selalu sedikit membantah tapi sebenarnya suka mencari tahu yang ikut menanggapi. Ia berkata, “Cinta kui gak ono definisine,” sambil menolak pendapat Salman karena menurutnya cinta tetap membutuhkan timbal balik antara yang mencintai dan yang dicintai. Jawaban mereka berdua menambah warna dalam diskusi kecil kami malam itu, membuat obrolan tentang cinta semakin ramai, tidak hanya soal perasaan, tetapi juga tentang cara masing-masing memandang makna cinta dari sudut yang berbeda-beda.

Yang menarik bagi saya, masing-masing dari kami punya definisi cinta yang beda-beda. Ada yang menganggap cinta itu soal tetap bersama walaupun sama-sama lelah, ada yang bilang cinta itu memberi, dan ada juga yang mengaku cinta itu kadang bikin pusing tapi tetap dicari. Dan semua itu dibahas sambil ketawa, sambil saling ngece, sambil bercanda khas anak warung kopi. Tapi di balik itu, ada sisi jujur yang muncul dari setiap cerita.

Warung kopi Keneae malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan cuma karena kopinya, tapi karena obrolan yang mengalir tanpa batas. Kadang kita lupa bahwa tempat sederhana seperti itu bisa jadi ruang refleksi yang paling tulus. Di meja yang dipenuhi gelas-gelas setengah habis, kami belajar bahwa cinta itu ternyata nggak sesederhana caption Instagram. Ia rumit, kadang lucu, kadang bikin gila.

Dari obrolan itu, saya sadar bahwa cinta itu bukan hanya soal hubungan dua orang. Lebih dari itu, cinta juga tentang gimana kita memahami diri sendiri, merawat perasaan, dan berani jujur pada apa yang benar-benar kita inginkan. Dan mungkin, justru di obrolan santai seperti ini di warung kopi Keneae, bareng kawan-kawan yang nyeleneh tapi tulus, kita bisa menemukan makna cinta yang paling sederhana.

Karena pada akhirnya, cinta nggak cuma hidup di teori. Cinta tumbuh dalam cerita-cerita kecil yang kita bagi.


Writed by Fajarrudin 

Posting Komentar

0 Komentar